Maret,HujanIni… [tentangengkau]
kau berjalan seolah tahu apa yang menjadi takdirmu.
mungkin hari ini malaikat memang berpihak padamu,
pada kita.
Tuhan memberi kita makna hari ini.
kau berceloteh tentangku,
seolah hati ini telah usai kau maknai sejarahnya,
menghimpunnya dalam siluet pemahamanmu yang tak terbingkai…
maka izinkan aku berdiam mendengarmu!
Tuhan memilih kini,
agar utuh sayap itu kau perlihatkan padaku,
agar terbaca olehku bahwa kelelahanmu terganti,
oleh sorak bingar yang memang kau rindui…!
Tuhan memilih kini,
saat aku seolah kemabli tak mengenalmu seluruh,
saat pengelanaanku terpaut oleh waktu yang justru tak memihak,
dan takdir yang seharusnya syukur kita renungi.
maka izinkan aku menangisi apa yang tak terngkum dalam hati ini,
maka izinkan cahayaNya juga menyusup dalam rumah hatimu yang angkuh,
maka izinkan kita mulai lagi perjalanan kita,
agar bahagia itu semakin utuh tergambar,
dalam harap-harap yang perlahan terpasung
pada rintik hujan ini…
kembalilah terbang jauh…
dan akupun akan berjalan,
ke mana arah angin ini membawa kita,
pada tujuan yang sama sekali berbeda!
awal maret 2008,
rizki Allah itu kemarin adalah pertemanan,
persahabatan,
persaudaraan,
senyuman,
dan rasa kenyang yang tak kan terbayar oleh makanan…!
[De,
jangan lelah mencari,
tapi jangan pula hujatan ini kausampaikan,
saat semua langit menolak kau yang sebenarnya!
jadilah anak yang baik,
karena Ibu tentu akan bangga padamu yang utuh!
jangan ikuti, bahkan iringi langkahku,
karena aku tak layak kau baca!]







