mentari mengutukiku

awan berarak tanda tiada lagi harapan di bumi,

aku bergegas menghempas nafas,

memburu takdir yang terlanjur usai.

kakiku bahkan mampu berteriak, "aku datang, tunggulah kiranya sesaat lagi!"

maka saat itulah tangis menjadi bagian hatiku yang kandas,

pada jiwa yang usang,

dan kerinduan yang telah sekian lama tertanam.

maka bunda, ini aku ada di hadapanmu,

merutuki diri pada bakti yang belum penuh,

pada janji yang belum usai,

maka bunda maafkan aku hari ini,

walau mentari kian kejam meninggalkan kita sambil menggerutu,

maka bunda, biarkan langit yang bicara

lewat butir-butir hujan yang mungkin ‘kan tenteramkan hatmu,

aku sungguh menyayangimu.

kampus, 26 mei 2008

selepas pukul dua,

sehari setelah sekian menit persuaan.



Leave a Reply