Di Matamu, Kulihat
Engkau berdiri di sana,
di hadapan rumah tua yang kau banggakan
mungkin menunggu kepulanganku, kepulangan kami,
sampai mentari hampir-hampir pamit.
Engkau terjaga pada setiap desah malam,
menjagai satu-satu permatamu,
pun melagukan harap-harapmu,
berharap digariskanNya takdir terbaik bagiku, bagi kami.
Ayah,
waktu beranjak menjadi musuh bagi langkahmu,
setetes pengorbanan dalam setiap detik tak jua ingin kau khianati.
Ayah,
di matamu kubaca pucuk-pucuk semangat
yang mungkin akan kau wariskan padaku, pada kami.
Ayah,
apakah engkau lelah mendengar celoteh kami?
maka kini, biarkan kami mendengar arus hidupmu.
aku mencintaimu,
sampai mentari terakhir kujumpai.
sabtu,7juni08
810am
gegerbakti







